Balita Perokok

Luka kematian, kadang menjadi hal yang biasa. Kadang mengejutkan. Kadang pula menyisakan luka panjang yang pekat. Mungkin pengalaman saya ini tergolong cerita yang menarik sekaligus memiliatinkan. Cerita tentang balita umur tiga setengah tahun yang kecanduan rokok.

Balita itu, sekarang ada di pangkuan saya. Dari kisah neneknya, ibu balita itu meninggal, ketika dia berumur lima belas hari. Lalu, sejak umur satu setengah tahun dia mulai merokok.

Ketika bayi, ia mendapatkan pengasuhan ala kadarnya dari sang nenek. Maklum, mereka bukanlah orang yang berkecukupan. Sehingga waktu sang nenek, juga harus dibagi dengan mencari nafkah untuk menyambung hidup. Setiap kali menangis, balita ini menolak menerima permen. Dahi neneknya, bahkan pernah ditimpuk batu yang ia lempar sebagai bentuk penolakan. Pokoknya rokok. Itu yang diinginkan balita tersebut. Dia akan terus menangis jika keinginannya tidak dipenuhi. Akhirnya, sang nenek mengalah.

So, mulailah dia menjadi perokok. Rokonya keren, Djarum! Heemm….

Saya iba melihatnya. Apalagi, saya bertemu dengan balita ini di Bantul, Jogjakarta. Dia korban gempa yang waktu itu tinggal di tenda-tenda pengungsian. Dengan situasi bencana seperti itu, balita ini semakin bebas. Bermain dengan orang-orang dewasa. Dan kegiatan merokok semakin sering.

Setelah men-tapping para korban bencana di posko Bantul, saya niatkan tapping anak itu. Waktu gempa Jogja, berarti dia sudah dua tahun menjadi perokok. Waktu yang cukup lama.

Dia menurut saja, ketika saya mengambil dan mendudukkan di pangkuan. Lalu sambil saya tanya-tanya, anak ni saya tapping, agar berhenti merokok. Awalnya dia agak berontak, mungkin risih ya diketuk-ketuk. Tapi, beberapa menit berikutnya, ia kembali menurut.

Setelah dua putaran short cut, saya tawari sebatang rokok. Dia masih menerimanya dan dicium-cium. Tapi tidak dirokok. Saya lanjutkan tapping satu putaran lagi. Alhamdulillah, dia sudah menolak rokok itu. Malam itu sarnpai pagi, ia lewatkan tanpa rokok. Dia hanya ikut bemyanyi-nyanyi di tenda pengungsian.

Waktu bakti sosial kami berakhir. Kami bertolak kembali ke Surabaya. Sepanjang perjalanan saya mengingat anak itu. Berharap, semoga dia benar-benar sembuh dari kecanduan rokok. Kasian paru parunya.

Seminggu sudah berlalu. Saya sudah kembali ke rumah induk di Jakarta. Suatu sore, ketika sedang bercengkrama dengan istri, ponsel saya bunyi. Anda tahu telpon dari siapa? Telpon dari Bantul. Lelaki muda tersebut telpon untuk mengirim kabar, bahwa balita itu sekarang sudah lepas sama seka1i dari rokok. Mengganti rokok dengan mengulum permen.

Syukurlah.

Guru para SEFTeR,  Ahmad Faiz Zainuddin

Sumber: Negri Para Sefter

8 thoughts on “Balita Perokok

  • Assalammu’alaikum wr wb….
    bapakj faiz…perkenalkan nama saya rini. saya mempunyai suami seorang perokok sejak mulai masa kuliah 12 tahunan yg lalu. sangat ingin sekali saya menghentikan kebiasaannya merokok tapi dengan cara apapun itu mulai dari saya carikan artikel baha dan cara berhenti merokok, memberi pengertian, dan berbicara baik2,,,tapi hasil akhirnya selalu pertengkaran, sampai seekarang saya merasa stres dibuatnya pak… bagaimana solusinya? saya domisili di lumajang. apakah ada sefter di wilayah sini atau yang terdekat dimana? saya tertarik sekali pada terapi SEFT ini. mohon bantuannya. sebelumnya, saya ucapkan terima kasih.
    wassalammu’alaikum wr wb…

      • pak saya mau tanya, kunci keberhasilan melakukan teknik SEFT itu yang sangat berpengaruh ada di posisi yang nerapi apa yang di terapi, kalau seumpamanya yang di terapi tidak bisa fokus dan konsentrasi, apakah bisa berhasil pak

  • Alhamdulillah…saya sangat bersyukur kpd Allah ats izinNya dan Ridhanya megikuti pelatihan SEFT angkatan 115 di Hotel jakarta sepekan lalu karna masi baru belum banyak pengalaman, tiga pasien perokok berat, 2pasien struk ringan eorang pasien hipertensi, luar biasa perubahan mekipun belu pulih betul. karna baru sekali terapi. namun kami tetap semangat untik terus melakukan terapi, yang kami aalami sehabis terapi kondisi kami sangt cape sekali…apa solusinya agar kondisi tetap fiit sesudah menolong pasien…. Syukran ats solusinya. bagaiana pula seorang SEFTER bisa menjadi TRAINER SEFT…….???

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.