SEFT Jarak Jauh

Ini pengalaman lumayan besar bagiku. Aku dulu karyawan LoGOs Institute Jakarta. Meskipun aku adalah staf, tapi aku tidak sering menangani pasien. Karena memang, tugas utama kami para staf, bukan melakukan terapi. Tapi mengadakan pelatihan. Terapi seringkali dilakukan oleh para SEFTeR. Tapi, kalau ada kondisi emergency, kami bisa lho dikerahkan. Dengan kata lain, kami juga bisa napping, bukan hanya jadi panitia pelatihan. Hehe…

Memang, karena jam terbang yang tidak tinggi, kamipun tidak se’ampuh’ sejumlah SEFTeR yang punya pasien setiap hari.

Awal saya membantu seorang alumni pelatihan SEFT, ketika di kantor sedang sepi. Maklum, hari Sabtu, kami ngantor setengah hari. Dia ada di lampung. Ketika telepon ke Jakarta, dia sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Waktu itu ia mengaku hamil dan tiba-tiba karena tekanan psikis tertentu, mengalami pendarahan. Dan bisa ditebak, tujuan dia telepon adalah meminta bantuan Surrogate. Aku tetap menanggapinya dengan ramah juga memintanya untuk tetap tenang. Cuma yang aku bingungkan waktu itu adalah permintaan Surrogate itu.

Sepanjang kenal SEFT, aku belum pernah melakukan teknik ini. Kalaupun melakukan tapping langsung, aku paling cuma keluhan ringan. Lalu, bagaimana mungkin aku melakukan Surrogate. Tapi, aku tetap menyanggupi. Setelah telpon mati, aku berpikir untuk menghubungi beberapa alumni. Aku berpikir daripada nanti aku salah penanganan dan jujur aku tidak percaya diri melakukan itu.

Tuhan berencana lain. Karena dari sejumlah alumni yang kuhubungi, mengatakan sedang sibuk. Karena emergency akhirnya aku putuskan saja untuk Surrogate. Bismillah….

Aku mulai sesuai dengan aturan yang berlaku. Lalu kami kontak-kontak untuk memantau bagaimana perkembangan si alumni ini. Beberapa kali kontak, suaminya mengabarkan, pendarahan sudah teratasi. Dalam hitunganku, tadi sekitar lima menit proses tapping dan saling kontak sampai pada kabar pendarahan berhenti. Suaminya juga mengatakan, teknik ini cukup membantu upaya dokter setempat. Alhamdulillah…

Aku tidak berpikir panjang, bagaimana teknik ini bekerja. Yang aku percaya, energy psikologi itu ada. Dan ia bisa diolah untuk membantu berbagai keluhan. tapi mungkin karena tidak terlihat, teraba dan terukur, maka seringkali diragukan. Tidak masalah, yang penting alumni itu tertolong, Dan semoga bayinya dalam kandungannya juga selamat. Amin.

Proses Surrogate temyata menyisakan rasa yang tidak enak di perutku. Aku merasakan, sepertinya aku juga pendarahan dengan perut melilit yang sangat. Badanku lemas, keringat bercucuran dan kepalaku pusing. Karena sakit mendadak ini, aku akhirnya pulang lebih cepat. Sampai di rumah, rasa sakit ini juga belum hilang. Aku juga sempat muntah-muntah.

Rasa sakit ini, berlangsung sampai dua hari. Karena sakit yang tiba-tiba dan berat ini, aku lalu menemui Pak Faiz. Beliau menanyakan kronologis sakitku. Aku menerangkan dengan rinci. Beliau tersenyum, lalu bertanya, “Tadi habis surrogate sudah kembali jadi diri sendiri belum.”

Aku diam sejenak. Oh ya, aku belum menuntaskan Surrogate dengan kembali menjadi diriku sendiri. Langsung saja di depan beliau, aku lengkapi dengan proses terakhir dari Surrogate, yakni niat kembali menjadi diri sendirii, dan tidak lagi mewakili yang sakit.

Setelah itu, aku merasakan sakitku agak ringan. Ini buat pelajaran bersama para SEFTeR sepertinya, untuk tidak lupa menuntaskan Surrogate. Sehingga sakitnya tidak perlu mengikuti kita terus.

Dewi Lestari

Set Up Surrogate:

Ya Allah, saya mewakili (Si Fulan)

Ya Allah, meskipun perut saya sangat sakit, melilit karena saya pendarahan, saya ikhhlas menerima rasa sakit ini, dan saya (Si Fulan) pasrahkan kesembuhan saya pada-Mu.

Ya Allah, sekarang saya sudah tidak mewakili Si Fulan lagi, saya menjadi diri saya sendiri sekarang. Semoga kau karunia Si Fulan kesembuhan dan kesehatan.

Sumber: Negri Para Sefter

3 thoughts on “SEFT Jarak Jauh

  • Pengalaman anda ini sangat menarik dan dapat menambah kemantapan saya untuk mengikuti training SEFT. Pengalaman seperti ini memang harus disampaikan agar menjadi ilmu dan pengakaman bagi orang lain.Terima kasih atas ilmunya

  • Kalau boleh berpendapat, agar efeknya tidak terjadi pada diri kita, mengenai niat bisa kita modifikasi…misal “Ya Allah…Dengan Tapping (pada diri sendiri) ini saya niatkan untuk Tapping pasien……(Si Fulan). Saya ikhlas dan pasrah pada MU ya Allah…”

    Jadi, konsepnya seperti kita melakukan tapping pada orang lain. Mohon koreksi jika ada kekeliruan…karena saya belum pernah belajar secara langsung dengan ahlinya. Hanya belajar otodidak..Terimakasih..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.