SEFT Akurkan Anak

Heri Mulyo Cahyo | Angkatan 98

Anak-anak kadang bertengkar di rumah adalah fenomena umum. Pengalaman menarik dishare oleh Heri Mulyo Cahyo, alumnus FKIP Bahasa Inggris, Universitas Jember, tentang empat anak-anaknya. Berikut kisahnya.

Sudah lama saya ingin menulis pengalaman ini. Hanya saja saya benar-benar ingin mengujinya beberapa kali sebelum benar-benar saya tulis. Ya, semenjak pelatihan SEFT di Malang Post tanggal 12 Pebruari 2012 yang lalu, saya baru bisa praktik SEFT hanya pada orang-orang di keluarga saya. Mulai istri dan anak-anak.

Terus terang bingung juga, nyari “mangsa” yang punya masalah khusus untuk saya terapi. Tetapi, saya ingat motto SEFT try it on everything. Cobalah pada apa saja. Maka untuk mencobanya saya menjadikan anak-anak saya untuk saya Tapping.

Nah, kasus yang saya tangani semuanya terkait dengan “menenangkan” anak-anak yang sedang marah dan menangis. Biasalah, 4 orang anak yang usianya antara kelas 5 SD dan yang bontot 2,3 tahun kumpul pasti sering terjadi “bentrokan”. Dan kalo sudah begitu, yang merasa jadi korban akan menangis meraung-raung, bahkan tidak berhenti sebelum ada pembalasan. Apalagi si Dayyan dan Habib, yang kalo tidak ketemu saling kesepian dan merindukan, tetapi kalo pas bersama selalu ada gesekan.

Suatu sore, mereka bertengkar. Pemasalahannya sepele. Saling ejek dan adu mulut. Karena jengkel si Habib melempar bantal ke Dayyan. Seperti yang biasa terjadi, pertempuran pun terjadi. Saling lempar bantal dan guling. Setelah saya pisah, mereka saya marahi, tetapi Dayyan tidak terima karena merasa dia benar. Dia menangis dengan teriak-teriak. Dan kalo si Dayyan ini track racordnya kalo nangis sejak bayi, bisa bikin orang sekampung pada pengen tahu kenapa.

Karena risih dengan tangisan yang meraung-raung, saya panggil Dayyan baik-baik untuk masuk ke kamar, dan saya minta tidur. Dia tetap ngomel panjang pendek dan mengatakan saya tidak adil karena memarahi dirinya. Tetapi saya berusaha tenang dan mulai mengajak Dayyan bicara hal-hal lain, tanya kegiatannya di sekolah, tanya game yang biasa dia mainkan, dan macam-macam. Sambil bertanya saya mengetuk-ngetuk pelan bagian atas kepalanya, berlanjut pada titik meridian di ujung alisnya sampai dibawah ketiaknya. Semua saya lakukan dengan perlahan, sambil mengajaknya bicara. Lambat laun, kemarahannya mereda dan sekitar 30 menit kemudian dia tertidur.

Kasus kedua, masih masalah nangis dan marah. Kali ini yang jadi korban adalah si bontot Kya. Pasalnya si Habib beraksi menjaili Kya. Entah apa yang dia lakukan. Yang jelas Kya menangis meraung-raung, sambil berkata… “Habib elek… Habib elek…!” Saya panggil si Kya dan saya gendong sambil saya ajak ngobrol dan tangan kanan saya juga men-tapping titik-titik meredian yang ada di kepala dan wajahnya dengan pelan, sekitar 10 menit kemudian tangis Kya sudah reda dan bisa saya turunkan dari gendongan.

Dan yang paling baru adalah Nadia. Entah mengapa dia dimarahi Ibunya, seperti biasa dia langsug lari ke kamar dan membenamkan muka dan tubuhnya di kasur, sambil menangis terisak-isak. Saya mendekati dan mengajaknya ngobrol, seperti biasa dia merasa sebal dimarahi dan dia berkata dengan sangat emosional. Saya hanya mendengarkan saja sambil mengajak ngobrol hal lain dan tangan kanan saya mentapping mulai kepala hingga daerah di bawah ketiak. Alhamdulilllah beberapa saat kemudian emosinya mulai stabil dan bisa bicara dengan baik, kemudian saya beri air putih dan bisa tersenyum lagi.

Siangnya, Habib membuat masalah lagi, kali ini tetap Nadia korbannya. Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba penggaris yang dijadikan Nadia untuk menggambar patah. Tentu saja Nadia berang dan marah kemudian dilanjurkan menangis keras. “Wah, gawat neh, gambarnya bisa dirobek kalau marah!” gumam saya dalam hati. Pasalnya Nadia saya minta nggambar buat sampul bukunya Om Dian.

Segera saya temui Nadia yang sedang ngamuk-ngamuk ke Habib, dan saya peluk sambil saya tapping kepalanya. Saya juga ajak dia ngobrol dan saya janjikan penggarisnya saya ganti. Saya juga minta Dayyan mengambilkan air putih. Setelah beberapa tapping lembut di kepala dan wajah, dan saya beri minum alhamdulillah emosi marahnya mereda dan dia bisa konsentrasi menggambar lagi.

“Tidak terlalu menarik kasusnya, tetapi saya merasa SEFT cukup membantu menenangkan emosi anak-anak saya.” Tukas Heri sambil ketawa ringan. (tamam malaka)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.